Perempuan Sebagai Pembawa Kebangkitan Keadaban Dunia

Perempuan Sebagai Pembawa Kebangkitan Keadaban Dunia – Peradaban ialah seluruh hasil budi daya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan, baik fisik (bangunan, jalan) maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan).

Masyarakat yang maju dalam kebudayaan tertentu berarti mempunyai peradaban yang tinggi.

Peradaban memiliki ciri-ciri dan juga karakteristik untuk memperjelas dan membedakannya dengan kebudayaan.

Peradaban dan kebudayaan merupakan hal yang berbeda. Setiap masyarakat mempunyai peradabannya sendiri dan ditandai dengan kehidupan yang nyaman. Selain itu, peradaban memiliki wujud moral, norma, etika, dan juga estetik.

Dikutip dari buku Pengantar Antropologi: Sebuah Ikhtisar Mengenal Antropologi oleh Gunsu Nurmansyah dkk (2012:100-101), peradaban secara umum ialah bagian dari kebudayaan.

Dalam bahasa Belanda, peradaban disebut “bescahaving” dan dalam bahasa Inggris disebut “civilization”. Sedangkan, dalam bahasa Jerman “Die Zivilsation”. Asal kata “civilization” dalam bahasa latin ialah “civilis” yang berarti sipil, berhubungan dengan kata “civis” (penduduk) dan “civitas” (kota).

Secara bahasa, peradaban atau “civilation” ialah penduduk yang mempunyai kemajuan dan lebih baik. Masyarakat pemilik kebudayaan tersebut sudah pasti mempunyai peradaban yang tinggi.

Sementara menurut Arnold Toynbee dalam buku The Disintegrations of Civilization (1965:1355), peradaban ialah kebudayaan yang sudah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.

Pengertian lain menyebutkan, peradaban ialah seluruh hasil budi daya manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan baik fisik (bangunan, jalan) maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan).

Antropolog Koentjaraningrat mengatakan, peradaban ialah bagian-bagian yang halus dan indah seperti seni. Masyarakat yang sudah maju dalam kebudayaan tertentu berarti memiliki peradaban yang tinggi.

Istilah peradaban dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu kebudayaan mencapai puncak perkembangannya, unsur-unsur budaya bersifat halus, indah, tinggi, sopan, dan luhur. Masyarakat pemilik kebudayaan dikatakan memiliki peradaban tinggi.

8 Maret ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap th. 1977. Awalnya di th. 1917, Hari Perempuan Internasional dirayakan para perempuan di Rusia bersama terjadinya demonstrasi para buruh perempuan yang menginginkan kesetaraan gender.

Pemberdayaan perempuan banyak dikerjakan di semua dunia untuk menyingkirkan intimidasi maupun kekerasan terhadap perempuan. Namun demikian, sesungguhnya perempuan punyai makna penting didalam sebuah pergantian peradaban. Perempuan bukan cuma pelengkap kehidupan, namun menjadi pendorong utama membangun peradaban.

Perempuan terhitung menjadi area pertama pendidikan manusia yang akan membuahkan aktor-aktor perubahan. Pendidikan adalah jalan utama membentuk kebangkitan peradaban karena bersama pendidikan pertama didalam keluarga akan beri tambahan sifat baik atau jelek didalam kehidupan manusia.

Pandemi COVID-19 dan modernitas serta digitalisasi di segala bidang berdampak terhadap pergantian kehidupan. Gejolak sosial dan pergantian sosial tengah terjadi di semua lapisan masyarakat. Modernitas dan globalisasi datang bersama terlalu cepat tanpa membiarkan tiap-tiap penduduk dunia menyiapkan diri.

Demikian pula perempuan di semua dunia terhitung gagap menghadapinya, baik sebagai individu, istri , maupun sebagai seorang ibu. Kemajuan teknologi dan pengetahuan yang beri tambahan janji kemakmuran dunia dan keharmonisan penduduk sudah melahirkan penduduk komputerisasi. Masyarakat komputerisasi adalah penduduk post-insdustrial didalam era teknologi informasi. Penyebaran pengetahuan dan kekuasaan secara massif, merupakan lebih dari satu konsekuensi perkembangan teknologi.

Masyarakat komputerisasi yang dulu diramalkan selanjutnya terjun bebas di era COVID-19 yang mengharuskan manusia bekerja dan melakukan segala aktivitas menggunakan teknologi dan perangkat digital. Makna perempuan sebagai pembangun peradaban terhitung ditantang terhadap era serba susah ini. Era digitalisasi terjun bebas yang tetap gagap diterima oleh lebih dari satu penduduk di semua dunia, terhitung Indonesia.

Masih sanggupkah perempuan berperan di dalam pendidik pertama di dalam keluarga sebagai benteng dan pembangun aktor perubahan? Atau perempuan tambah turut terhempas bersama dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi dan juga virus COVID-19 yang udah memakan banyak korban?.

Benteng pemberian dari segala ancaman dan tantangan adalah karakter yang kokoh dan karakter yang berpijak terhadap spiritualitas diri yang mengacu terhadap agama. Karena agama lahir untuk menyempurnakan akhlak manusia, karakter manusia. Pendidikan memiliki tujuan membentuk karakter peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

Pendidikan dan pembentukan karakter sangat erat kaitannya dan harus dikelola bersama dengan baik. Agar tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai. Karakter akan membentuk takdir manusia dan kesejahteraan suatu bangsa. Oleh sebab itu karakter sangat perlu dan berharga bagi manusia dan peradaban masyarakat suatu bangsa.

Dalam pendidikan dan proses pembentukan karakter, bhs merupakan alat yang sangat perlu di dalam pembentuk karakter manusia. Disinilah peran perempuan akan memberi tambahan sebuah benteng kehidupan. Yakni terhadap ucapannya berbentuk doa-doanya yang merupakan kapabilitas spiritualnya. Segala ancaman dan tantangan era akan dapat dihadapinya. Serta keluarga dan generasi penerusnya bersama dengan bhs positif yang mempunyai kekuatan besar.

Bahasa positif atau bhs kebajikan yang digunakan di dalam proses pendidikan karakter merupakan alat yang pas di dalam pendidikan karakter. Hal ini termasuk dapat diketahui di dalam penelitian Emoto dan ditulis di dalam bukunya The Massage of Water dan The True Power of Water. Bahasa Positif akan memberi tambahan karakter yang baik bagi manusia.

Oleh sebab itu, pendidikan membutuhkan bhs sebagai pengantar yang dapat mentransfer pengetahuan pengetahuan pendidik kepada peserta didik, dan dapat menstransfer nilai-nilai moral terhadap peserta didik. Dan ini ada peran utama seorang perempuan. Saat ia edukatif anak-anaknya bersama dengan bahasa-bahasa positif yang ia ucapkan kepada anaknya. Ataupun doa-doa yang ia panjatkan untuk keluarganya.

Seperti di dalam teori Habermas bahwa nilai-nilai moral dan kebaikan dan juga kebenaran tidak cuma dijadikan sebuah kontemplasi. Melainkan mendorong “praksis perubahan sosial‟. Praksis ini bukanlah tingkah laku buta atas naluri belaka. Melainkan tindakan basic manusia sebagai mahluk sosial.

Dengan demikianlah praksis diterangi oleh “kesadaran rasional‟, sebab itu berbentuk emansipatoris. Habermas di dalam eseinya, Labor plus Interaction: Remarks on Hegel’s Jena ‘Philosophy of Mind’, menyebutkan bahwa Hegel memahami praksis bukan cuma sebagai “kerja‟, melainkan termasuk “komunikasi”. Karena praksis dilandasi kesadaran rasional, rasio tidak cuma terlihat di dalam kesibukan menaklukan alam bersama dengan kerja, melainkan termasuk di dalam “interaksi intersubjektif’ bersama dengan bhs sehari-hari.

Jadi layaknya halnya kerja membawa dampak orang berdistansi dari alamnya, bhs terlalu mungkin distansi dari persepsi langsung. Sehingga baik kerja maupun bhs berhubungan tidak cuma bersama dengan praksis, namun termasuk bersama dengan rasionalitas.

Peran perempuan sebagai pendidik utama dan pertama di dalam keluarga harus disadari dan dipahami oleh seluruh perempuan di dunia. Bahasa yang ia keluarkan dari hatinya dan terlontar dari mulutnya akan memberi tambahan efek positif atau negatif terhadap anak-anaknya dan keluarganya. Pesan yang konsisten masuk terhadap alam bawah memahami manusia, akan membentuk karakter dirinya dan itulah akan terlahir apakah ia akan penjadi pemenang dan pemimpin kehidupan atau sebaliknya.

Back to top